PENTING !! Akun Instagram dan Facebook resmi @sumatoid & Sumato ID sudah tidak aktif, harap tidak melakukan transaksi melalui akun tersebut, segala bentuk kerugian di luar tanggung jawab kami, follow dan share akun baru Kami Instagram @sumato_official & Facebook Sumato IDN

Musim Kemarau Rentan Kebakaran, Jangan Ambil Resiko!

Cuaca belakangan terasa terik panas, jalanan berdebu dan mulai jarang hujan. Kondisi tersebut merupakan tanda-tanda musim kemarau. Mengutip data dari BMKG, memasuki awal Agustus 2026, sekitar 73,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus hingga September dengan kondisi yang lebih kering dan durasi lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Niño.

Lebih lanjut dijelaskan bahwasannya puncak musim kemarau sebagian besar diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026 sebanyak 369 ZOM (Zona Musim) yang mencakup 48,84% luas daratan Indonesia. Jika dibandingkan dengan klimatologisnya, puncak musim di Indonesia umumnya diprediksi SAMA terhadap normalnya di 377 ZOM (38,15% luas daratan Indonesia). Sebagian besar musim kemarau di Indonesia diprediksi berlangsung 10 hingga 21 dasarian pada 388 ZOM yang mencakup 47,45% luas daratan Indonesia. Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim kemarau di Indonesia umumnya diprediksi lebih panjang dari normalnya pada 437 ZOM yang mencakup 48,77% luas daratan Indonesia. Fenomena musim kemarau yang perlu untuk diwaspadai bersama;

Kekeringan Meteorologis: Sejumlah daerah di Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT masuk dalam kategori Waspada hingga Awas terhadap potensi kekeringan. Melansir dari laman Kementerian Sekretaris Kabinet bahwasannya kekeringan di tanah air sebanyak 492 lokasi, dengan rincian sebanyak 105 lokasi merupakan area sawah seluas 22.210 hektare. Sementara itu, 387 lokasi merupakan kawasan permukiman untuk melayani kebutuhan air bersih bagi 155.228 jiwa.

Suhu Dingin (Bediding): Penurunan suhu udara pada malam hingga pagi hari sering dirasakan akibat langit bersih tanpa awan. Penyebab utama Bediding ini Adalah Angin Monsun Australia. “Dalang utamanya adalah monsun Australia. Angin musim yang kering ini menyapu uap air dan mengurangi pembentukan awan di langit kita,” bunyi penjelasan BMKG, dikutip pada Selasa (28/7/2026). Sejumlah daerah juga merasakan fenomena bediding tersebut diantaranya Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dsb.

Karhutla: Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, terutama di wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan. Baru-baru ini telah terjadi kebakaran hebat hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga Kamis (6/8) telah meluas hingga sekitar 70 hektare dan merembet ke wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dilansir dari Kumparan News: “Kami turut prihatin atas kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang hingga,” kata Daniel kepada wartawan, Senin (10/8). Ketua DPP PKB, Daniel Johan.

“Kawasan konservasi ini bukan hanya aset ekologis penting, tetapi juga penopang ekonomi wisata masyarakat sekitar, sehingga setiap hektare yang terbakar adalah kerugian jangka panjang yang tidak mudah dipulihkan,” tambahnya.

Beberapa tips dalam Menghadapi Musim Kemarau 2026.

Pengelolaan dan Penghematan Air

Gunakan air secukupnya dan matikan keran jika tidak dipakai. Jika ada lebihan air, tampung air bersih atau manfaatkan cadangan air dengan bijak.

Menjaga Kesehatan Diri

Minum air putih lebih sering agar tubuh tidak kekurangan cairan (dehidrasi). Hindari kontak langsung dengan sinar matahari, jika tidak memungkinkan bisa menggunakan pelindung seperti topi, payung, atau tabir surya saat keluar rumah.

Pencegahan Lingkungan

Jangan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar karena memicu kebakaran hutan dan lahan. Bersihkan pekarangan dari benda atau dedaunan kering yang mudah terbakar. Simpan daunnya dalam karung, kemudian tuangkan air kedalamnya. Tunggu 3-4 hari daun tersebut akan menjadi kompos, yang siap digunakan untuk memupuk tanaman.

Perlindungan Tambahan

Mempunyai APAR di rumah ataupun untuk aset yang kita miliki juga meminimalisir resiko kebakaran yang lebih besar. APAR otomatis dari Sumato bisa menjadi pilihan untuk perlindungan tambahan. Kalau untuk rumah bisa gunakan SM 10, dan mobil tipe SM 05. Sementara area pergudangan bisa menggunakan SM 40 dan SM 05 untuk di tempatkan pada panel-panel Listrik.

Musim kemarau sangatlah rentan dengan kebakaran. Jangan ambil resiko!. Kebakaran menyebabkan kerugian jangka panjang yang tidak mudah dipulihkan.

 

Referensi:

https://kumparan.com/kumparannews/kebakaran-hutan-gunung-bromo-komisi-iv-minta-drone-pantau-titik-api-real-time-27xRLgZtw7X/3

https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia-pemutakhiran-juni-2026

https://www.setneg.go.id/baca/index/pemerintah_perkuat_penanganan_kekeringan_di_492_lokasi_di_tanah_air

https://www.youtube.com/watch?v=fNX4WCvpLhM&t=385s

https://www.detik.com/jatim/berita/d-6914015/7-tips-sehat-agar-terhindar-dari-penyakit-saat-musim-kemarau

https://www.detik.com/jogja/berita/d-8593230/cuaca-dingin-bediding-2026-sampai-kapan-cek-perkiraan-bmkg-dan-ahli.

Leave a Reply

PENTING !! Akun Instagram dan Facebook resmi @sumatoid & Sumato ID sudah tidak aktif, harap tidak melakukan transaksi melalui akun tersebut, segala bentuk kerugian di luar tanggung jawab kami, follow dan share akun baru Kami Instagram @sumato_official & Facebook Sumato IDN